Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Bunga Utang AS Tembus US$ 1 Triliun, Ancaman Krisis Fiskal Menguat

✍️ Amalia Putri 🕒 21 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Bendera Amerika Serikat berkibar setengah tiang di depan Gedung Putih untuk mengenang Dolly Parton, setelah diumumkan bahwa ikon musik country tersebut meninggal dunia pada usia 80 tahun, di Washington, D.C., AS, 25 Agustus 2026.
Bendera Amerika Serikat berkibar setengah tiang di depan Gedung Putih untuk mengenang Dolly Parton, setelah diumumkan bahwa ikon musik country tersebut meninggal dunia pada usia 80 tahun, di Washington, D.C., AS, 25 Agustus 2026. Foto: REUTERS/Kylie Cooper

Finantara.id - Amerika Serikat (AS) berisiko menghadapi tekanan fiskal yang semakin serius di tengah lonjakan utang pemerintah, defisit anggaran, dan biaya bunga yang terus meningkat. Kondisi tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan persoalan anggaran yang tengah membelit Prancis, meskipun AS masih memiliki sejumlah keunggulan ekonomi untuk menahan tekanan tersebut.

Sejumlah pengamat menilai, jika persoalan fiskal terus diabaikan, tekanan ekonomi berpotensi berkembang menjadi krisis yang memicu ketidakpuasan masyarakat. Hal ini dilaporkan CNN International, Rabu (21/10/2026).

"Situasinya telah mencapai titik di mana masalah ini tidak bisa lagi diabaikan," ujar Peter Taylor-Gooby, profesor kebijakan sosial di University of Kent, seperti dikutip CNN International, Rabu (21/10/2026).

"Jika terus diabaikan, kita akan menghadapi krisis yang serius," tambahnya.

Prancis saat ini menghadapi beban utang pemerintah sekitar 119 persen dari produk domestik bruto (PDB), hampir dua kali lipat batas acuan Uni Eropa. Defisit anggarannya juga mencapai 5,4 persen dari PDB, sehingga pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan pajak dan memangkas belanja negara.

Kedua kebijakan tersebut berpotensi memicu penolakan publik, terutama di tengah kondisi politik Prancis yang terpecah. Tekanan fiskal itu membuat pemerintah kesulitan menentukan langkah untuk menyeimbangkan anggaran tanpa memperbesar ketegangan sosial.

Situasi serupa juga terlihat di AS. Utang pemerintah negara tersebut disebut mencapai sekitar 32 triliun dollar AS atau Rp 576 kuadriliun, sedangkan defisit anggarannya mencapai 2 triliun dollar AS atau Rp 36 kuadriliun. Biaya bunga utang bahkan telah menembus 1 triliun dollar AS atau Rp 18 kuadriliun per tahun, setara sekitar 14 persen dari total anggaran federal.

AS Masih Punya Keunggulan Ekonomi

Meski menghadapi tekanan utang, AS dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan sejumlah negara Barat, termasuk Prancis. Salah satu faktor utamanya adalah posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.

Selain itu, obligasi pemerintah AS atau Treasuries banyak diminati investor sebagai aset aman ketika pasar keuangan mengalami gejolak. Permintaan tersebut membantu pemerintah mendapatkan pembiayaan dengan biaya yang relatif lebih terkendali.

Besarnya skala dan keberagaman ekonomi AS juga menjadi penyangga. Investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), khususnya, dinilai mampu mendukung pertumbuhan ekonomi ketika sejumlah sektor lainnya mengalami perlambatan.

"Prancis dan Inggris berada dalam posisi yang cukup mirip," kata kepala ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi.

"Namun, di Amerika Serikat, kontribusi AI terhadap pertumbuhan ekonomi membuat negara ini lebih mampu mengelola utangnya," tambahnya.

Meski demikian, keunggulan ekonomi tersebut tidak berarti AS terbebas dari risiko krisis fiskal. Zandi mengingatkan, posisi AS yang relatif lebih kuat dibandingkan Prancis dan Inggris bukan alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan persoalan utang.

"Jika pertumbuhan ekonomi melambat sementara biaya bunga tetap tinggi, beban pembayaran utang dapat semakin menekan anggaran federal," ujarnya lagi.

Kombinasi pertumbuhan yang melemah dan biaya bunga yang tinggi dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah. Dalam kondisi tersebut, pemerintah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar untuk memenuhi kewajiban utang sekaligus membiayai berbagai program negara.

Kebuntuan Politik dan Batas Utang Jadi Ancaman

Di Eropa, tekanan fiskal Prancis belum tentu berkembang menjadi krisis yang menjalar ke seluruh kawasan. Bank Sentral Eropa memiliki instrumen untuk meredam gejolak pasar obligasi jika diperlukan, sementara beberapa negara Eropa lainnya memiliki defisit anggaran yang lebih rendah.

Karena itu, risiko utama Prancis masih berkaitan dengan persoalan anggaran dan kebuntuan politik domestik. Sementara di AS, salah satu ancaman yang perlu diwaspadai adalah persoalan batas utang pemerintah atau debt ceiling.

Kongres AS harus mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas utang agar pemerintah dapat terus memenuhi kewajiban pembayarannya. Jika terjadi kebuntuan politik, pemerintah berisiko kehabisan ruang untuk membayar kewajiban tersebut, meskipun secara ekonomi AS memiliki kapasitas untuk melunasi utangnya.

Zandi bahkan memperkirakan kemungkinan munculnya skenario ketika batas utang menjadi persoalan menjelang perayaan Halloween tahun depan.

"Kita bisa membayangkan skenario di mana batas utang terlampaui menjelang perayaan Halloween tahun depan," ujar Zandi.

Apabila kebuntuan tersebut benar-benar terjadi, pasar keuangan AS berpotensi mengalami gejolak serius. Ketidakpastian mengenai kemampuan pemerintah memenuhi kewajibannya dapat mengguncang kepercayaan investor dan menambah tekanan terhadap perekonomian.

Dengan demikian, AS belum tentu menghadapi krisis yang sama seperti Prancis. Namun, lonjakan utang, tingginya biaya bunga, dan polarisasi politik tetap menjadi tantangan serius yang perlu ditangani pemerintah Washington untuk mencegah tekanan fiskal berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update