Kamis, 03 Sep 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Purbaya Optimistis Kredit Perbankan Bisa Tumbuh di Atas 20%

✍️ Admin 🕒 02 Sep 2026 👁️ 2x dibaca
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa Foto: Istimewa

Finantara.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan kredit perbankan dapat menembus di atas 20% apabila kondisi likuiditas sistem keuangan terus membaik.

Menurut Purbaya, penguatan likuiditas terutama didorong oleh pertumbuhan base money atau uang primer (M0) serta penempatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.

Purbaya mengatakan pertumbuhan M0 menjadi salah satu indikator yang menunjukkan kondisi likuiditas sistem keuangan saat ini cukup kuat.

"Juli kemarin sudah 18,3% itu base money-nya tumbuh. Saya yakin kalau nggak berubah banyak, akhir bulan Agustus juga mungkin sekarang 18%. Sekitar segitu," ujar Purbaya saat ditemui di DPR, Rabu (2/9/2026).

Purbaya menjelaskan dirinya lebih memilih menggunakan indikator M0 untuk melihat kondisi likuiditas dibandingkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) perbankan.

Menurutnya, rasio AL/DPK tidak selalu mencerminkan kondisi likuiditas perbankan secara keseluruhan.

"Kan saya bilang AL/DPK itu semu. Kadang-kadang bagus terus, perbankannya kurang duit saja, nggak tahu kadang-kadang angka itu. Jadi saya nggak pakai itu, saya pakai angka yang lain, base money, M0, atau primary money. Itu biasanya selama ini cukup baik untuk menggambarkan keadaan likuiditas di sistem keuangan seluruhnya," katanya.

Dengan pertumbuhan M0 yang kuat, Purbaya melihat ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan masih terbuka lebar.

Ia memperkirakan kondisi tersebut dapat menciptakan ruang bagi pertumbuhan kredit hingga di atas 20%. Sementara itu, pertumbuhan kredit terakhir tercatat sebesar 13,58% pada Juli 2026.

"Itu cukup kalau ditahan terus ke depan, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20%. Data terakhir kan kredit 13,58% (per Juli 2026)," katanya.

Purbaya menilai kondisi likuiditas perbankan saat ini telah membaik dibandingkan periode sebelumnya. Perbaikan tersebut memberikan ruang bagi sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit kepada dunia usaha.

"Kredit meningkat dibanding sebelum-sebelumnya karena pengaruh likuiditas di sistem keuangan kita tadi," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan bank sentral untuk menjaga kondisi likuiditas tetap kondusif.

"Jadi saya pikir dengan koordinasi lebih baik antara keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar," ungkap Purbaya.

Penempatan SAL Ikut Jaga Likuiditas

Selain pertumbuhan M0, penempatan dana SAL di sistem perbankan turut memberikan dampak positif terhadap kondisi likuiditas.

Purbaya menjelaskan sebagian dana pemerintah ditempatkan di Bank Indonesia, sementara sebagian lainnya ditempatkan di sistem perbankan. Penempatan tersebut merupakan bagian dari manajemen kas pemerintah.

Menurutnya, kondisi tersebut secara tidak langsung memberikan tambahan likuiditas bagi perbankan. Namun, ia menegaskan penempatan dana pemerintah bukan semata-mata ditujukan untuk memberikan stimulus kepada perbankan.

"Kebetulan berdampak positif ke perbankan, jadi itu cuma kebetulan saja," katanya.

Purbaya juga memastikan pemerintah tidak akan sembarangan menarik dana SAL yang telah ditempatkan di perbankan.

Apabila pemerintah membutuhkan dana tersebut, penarikannya akan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan bank sentral agar tidak mengganggu kondisi base money.

"Yang memang kita mau dipakai nanti kita komunikasi dengan bank sentral. Sehingga yang tadi base money, itu nggak terganggu," tegasnya.

Ia menambahkan pemerintah tidak dapat menggunakan SAL begitu saja sebelum memperoleh persetujuan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

"SAL itu nggak dipakai sebelum dapat prosedur DPR," ujarnya.

Purbaya menilai perbaikan likuiditas tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan kredit, tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan sektor swasta atau non-government.

"Artinya apa? Sektor non-government atau private sector itu bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Menurut Purbaya, peningkatan aktivitas sektor swasta pada akhirnya dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi dapat berada signifikan di atas 6% apabila kondisi likuiditas dan aktivitas ekonomi terus terjaga.

"Kalau pemerintahnya malas saja bisa tumbuh 6% ekonominya. Sekarang pemerintahnya rajin. Jadi akan signifikan di atas 6%," pungkas Purbaya.

A
AdminPemimpin Redaksi
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update