OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil, Ekonomi RI Tumbuh 5,4%
Finantara.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga stabil meskipun ketidakpastian ekonomi dunia meningkat. Tekanan geopolitik, lonjakan harga energi, inflasi, serta prospek suku bunga tinggi menjadi sejumlah faktor yang membayangi pasar keuangan internasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kenaikan harga energi akibat eskalasi konflik geopolitik masih menjadi salah satu pendorong tekanan inflasi global. Dampaknya terlihat di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Inggris, yang tingkat inflasinya telah melampaui rentang sasaran.
"Dinamika inflasi global masih dipengaruhi oleh kenaikan harga energi seiring eskalasi konflik geopolitik," kata Friderica dalam Rapat Dewan Komisioner Bulan Oktober 2026, Kamis (5/11/2026).
Tekanan tersebut membuat sejumlah bank sentral tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat. Akibatnya, suku bunga acuan di berbagai negara diperkirakan masih berada pada tingkat tinggi hingga 2027.
Selain persoalan moneter, pemerintah di sejumlah negara juga menghadapi keterbatasan ruang fiskal. Kondisi ini mengurangi keleluasaan untuk memberikan stimulus maupun subsidi, terutama ketika kenaikan harga barang turut menekan daya beli masyarakat, termasuk di kawasan Eropa.
"Sejumlah negara bahkan menghadapi kebutuhan konsolidasi fiskal melalui penyesuaian anggaran belanja pemerintah," tuturnya.
Friderica menambahkan, tekanan ekonomi berpotensi memperbesar ketegangan sosial dan memicu ketidakstabilan di sejumlah negara. Di pasar keuangan, kombinasi ekspektasi suku bunga tinggi dan risiko politik global membuat investor cenderung mengambil posisi lebih defensif atau risk-off.
Investor Global Kurangi Risiko
Kehati-hatian pelaku pasar terlihat dari koreksi saham-saham teknologi di sejumlah bursa internasional. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara meningkat hingga menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Pergerakan tersebut mencerminkan masih besarnya tekanan terhadap pasar keuangan global di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Konsumsi Domestik Lebih Berhati-hati
Di dalam negeri, OJK melihat masyarakat mulai lebih selektif dalam mengatur pengeluaran. Tekanan inflasi domestik terutama bersumber dari kenaikan harga pangan.
Namun, pertumbuhan uang beredar dan inflasi inti masih relatif terkendali. Sementara itu, penjualan kendaraan bermotor tetap tumbuh cukup kuat, terutama berkat peningkatan penjualan mobil listrik.
"Penjualan kendaraan bermotor tumbuh cukup solid terutama didorong oleh penjualan mobil listrik," jelasnya.
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur juga menunjukkan perkembangan positif. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 naik ke level 54. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,4 Persen
Di tengah berbagai tantangan eksternal, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif. Produk domestik bruto (PDB) nasional pada kuartal III/2026 tumbuh 5,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Friderica menyebut pertumbuhan tersebut terjadi di seluruh lapangan usaha. Capaian ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap berkembang meskipun tekanan dan ketidakpastian global masih meningkat.
