Gaya Hidup Ikut Picu Inflasi Bandung, BBM dan Biaya Kontrak Rumah Jadi Penyumbang Terbesar
Finantara.id - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut gaya hidup menjadi salah satu faktor yang memengaruhi inflasi di Kota Bandung. Sejumlah komponen yang masuk dalam daftar pemicu inflasi antara lain bahan bakar minyak (BBM), biaya kontrak rumah, sewa rumah atau kos-kosan, sigaret kretek putih, emas perhiasan, hingga transportasi udara.
"Beberapa pemicu inflasi di Kota Bandung itu justru dipicunya oleh gaya hidup ya," kata Farhan saat ditemui di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Selasa (4/11/2026).
Menurut Farhan, BBM dan biaya hunian menempati posisi teratas dalam daftar 10 komponen yang berkontribusi terhadap inflasi Bandung.
"BBM itu nomor 1, nomor 2-nya kontrak rumah, nomor 3-nya sewa rumah atau kos-kosan. Kemudian sigaret kretek putih. Ya. Itu empat besar dari 10 besar itu, yang nomor sembilannya justru transportasi udara," ucap Farhan.
Pemerintah Kota Bandung kini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan permintaan barang dan jasa menjelang akhir 2026. Sejumlah momentum besar yang waktunya berdekatan, mulai dari Natal dan Tahun Baru (Nataru), Imlek, Ramadhan, Idul Fitri 2027, hingga pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), dinilai berpotensi menambah tekanan inflasi.
"Ini lima rangkaian berdekatan yang memang harus kita waspadai karena ini yang bisa memicu inflasi," katanya.
Untuk mengantisipasi kenaikan harga, Pemkot Bandung bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat pemantauan harga, memastikan ketersediaan stok pangan, serta menjaga kelancaran distribusi dari pasar induk ke pasar tradisional.
Farhan menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas perlu berjalan beriringan dengan inflasi yang terkendali agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
"Kewaspadaan kita dalam menghadapi akhir tahun itu memang harus lebih kita kuatkan karena ada risiko kenaikan dari inflasi. Pada dasarnya kita kan ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonominya harus berkualitas. Salah satu syaratnya adalah pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan tingkat inflasi yang terkendali," katanya.
Berdasarkan data Oktober 2025–2026, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Kota Bandung tercatat sebesar 2,95 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sepanjang Januari–Oktober 2026 mencapai 2,18 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi semester II tercatat sebesar 5,78 persen.
"Nah, jadi artinya masih terkendali dengan pertumbuhan laju pertumbuhan ekonomi semester II sampai 5,78 (persen). Jadi insyaallah mudah-mudahan sampai akhir tahun 2026 tingkat inflasi terkendali tingkat pertumbuhan pun bisa kita dorong lebih cepat lagi," ucapnya.
Pemkot Bandung juga memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengantisipasi potensi gejolak harga.
Stok Beras Bandung Surplus 35.000 Ton
Beras menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam pengendalian inflasi. Farhan memastikan pasokan beras di Kota Bandung masih mencukupi, meskipun harga rata-ratanya mencapai Rp13.585 per kilogram atau sekitar Rp85 di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menurut Farhan, surplus beras di Bandung mencapai sekitar 35.000 ton dari berbagai varietas, mulai dari beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga beras premium.
“Kita pastikan stoknya ada. Stok beras banyak sekali. Kita punya surplus beras sampai 35.000 ton,” ujarnya.
Di sektor transportasi udara, permintaan penerbangan juga menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Hingga Senin (2/11/2026), jumlah penumpang pesawat tercatat sekitar 2.200 orang per hari, seiring bertambahnya sejumlah destinasi penerbangan domestik.
"Jadi kelihatannya kita sudah on the right track untuk kembali mengembangkan bandara sebagai salah satu motor pergerakan," ucapnya.
Data hingga Oktober 2026 juga mencatat sekitar 18 juta perjalanan masuk (inbound) ke Kota Bandung dan 14 juta perjalanan keluar (outbound). Selisih empat juta perjalanan tersebut dinilai menjadi peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong sektor pariwisata dan jasa.
"Jadi ada selisih 4 juta orang perjalanan ke Kota Bandung yang ini merupakan bisa dikatakan sebagai margin positif lah gitu yang bisa kita kita manfaatkan," katanya.
Selain transportasi udara, biaya perguruan tinggi turut masuk dalam 10 besar komponen pemicu inflasi Bandung. Meski demikian, keberadaan perguruan tinggi unggulan juga mendatangkan mahasiswa yang menjadi bagian dari kelompok usia produktif dan mendorong aktivitas ekonomi kota.
"Mereka ini akan menjadi kelompok usia produktif sekaligus juga salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi yang sangat baik di kota ini," ujarnya.
BI dan BPS Soroti Karakteristik Ekonomi Bandung
Kepala Perwakilan Wilayah BI Jawa Barat Junanto Herdiawan mengapresiasi upaya Pemkot Bandung dalam mengendalikan inflasi. Ia menyebut inflasi Bandung masih terkendali dan diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran sepanjang 2026.
BI, kata Junanto, akan terus memperkuat sinergi bersama TPID hingga akhir tahun.
“Kita lihat inflasi Kota Bandung masih terkendali dengan inflasi tahun kalender (year to date) sebesar 2,18 persen, kami perkirakan inflasi pada 2026 ini masih berada dalam rentang sasaran,” ujar Junanto.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Bandung Nevi Hendri menjelaskan bahwa karakteristik Bandung sebagai kota jasa membuat kebutuhan pangan tidak hanya dipengaruhi penduduk lokal, tetapi juga wisatawan dan masyarakat komuter.
Menurut Nevi, jumlah perjalanan masuk ke Bandung mencapai sekitar dua juta setiap bulan. Mobilitas tersebut menyebabkan jumlah orang yang beraktivitas di kota pada siang hari berbeda dengan jumlah penduduk pada malam hari.
"Penduduk malam hari dengan siang hari itu berbeda. Nah, ini akan meningkatkan permintaan bahan makanan terutama dan ini yang harus kita antisipasi bagaimana ketersediaan bahan makanan ini tidak hanya mempertimbangkan penduduk lokal tetapi penduduk komuter dan juga penduduk wisatawan yang secara data itu hampir tiap bulannya sekitar Rp 2.000.000 masuk ke Kota Bandung sampai inbound ya," katanya.
Nevi juga menyoroti peran dua pasar induk di Kota Bandung dalam menjaga kelancaran distribusi bahan pangan. Optimalisasi fungsi pasar induk dinilai penting untuk memastikan pasokan ke pasar-pasar tetap terjaga dan harga lebih stabil.
“Kita memiliki keuntungan strategis dengan adanya dua pasar induk. Bagaimana kita bisa memerankan fungsi pasar induk sebagai katalisator penjaga stabilitas rantai pasok ke pasar-pasar yang ada di Kota Bandung,” katanya.
Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Barat Budi Kurnia menambahkan, kompleksitas aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat membuat Kota Bandung memiliki banyak variabel dalam penghitungan inflasi.
“Dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, Kota Bandung memiliki kompleksitas variabel yang paling banyak dalam penghitungan inflasi. Oleh karena itu, kita fokus ke Kota Bandung,” ujar Budi.
