Selasa, 03 Nov 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Polemik Putusan MA, Yan Harahap Pertanyakan Relevansi Isu AHY Jadi Wapres

✍️ Amalia Putri 🕒 03 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
Yan Harahap Kritik Bestari Barus soal Polemik Jansen Sitindaon dan Putusan MA
Yan Harahap Kritik Bestari Barus soal Polemik Jansen Sitindaon dan Putusan MA Foto: Istimewa

Finantara.id - Politisi senior Partai Demokrat Yan A. Harahap mengkritik tanggapan Bestari Barus terhadap pernyataan Jansen Sitindaon mengenai putusan Mahkamah Agung (MA). Yan menilai, polemik yang semestinya berfokus pada persoalan hukum dan konstitusi justru bergeser menjadi pembahasan spekulasi politik, termasuk isu mengenai peluang AHY menjadi Wakil Presiden.

Melalui akun X pribadinya, @yanharahap, Yan menyatakan bahwa respons Bestari tidak menjawab substansi kritik yang disampaikan Jansen. Menurut dia, perbedaan pandangan terhadap suatu analisis hukum seharusnya ditanggapi dengan argumentasi yang relevan.

“Jansen @jansen_jsp sedang berbicara mengenai putusan MA dan implikasi hukumnya. Kalau tidak sependapat, bantahlah dengan argumentasi hukum. Jelaskan di mana letak kekeliruan analisisnya,” tulis Yan.

Yan menegaskan, pembahasan mengenai putusan lembaga peradilan perlu ditempatkan dalam kerangka hukum. Ia berpandangan, perbedaan pendapat semestinya disertai penjelasan yang rasional dan bisa diuji, bukan dikaitkan dengan dugaan kepentingan politik seseorang.

Ia juga mempertanyakan relevansi membawa nama AHY ke dalam perdebatan tersebut, khususnya ketika kritik terhadap putusan MA dihubungkan dengan dugaan ambisi politik untuk menduduki jabatan Wakil Presiden.

“Mengapa justru dibelokkan menjadi isu AHY ingin menjadi Wapres? Apa relevansinya? Apa hubungan logis antara sikap kritis terhadap putusan MA dengan ambisi politik seseorang?” ujarnya.

Menurut Yan, menggeser pembahasan dari argumentasi hukum ke spekulasi politik tidak menjawab pokok persoalan yang diperdebatkan.

“Ketika argumentasi hukum dijawab dengan spekulasi politik, sesungguhnya yang sedang diperlihatkan bukan kekuatan argumentasi, melainkan ketidakmampuan menjawab substansi persoalan,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar persoalan hukum tidak terus dikaitkan dengan prasangka atau kepentingan politik. Yan menilai, penghormatan terhadap proses peradilan perlu berjalan beriringan dengan ruang bagi masyarakat untuk mengkritisi serta membahas implikasi putusan pengadilan secara terbuka.

“Hukum harus dijawab dengan hukum, bukan dengan tuduhan dan spekulasi. Jangan setiap persoalan hukum ditarik ke dalam prasangka politik,” lanjut Yan.

Pada bagian akhir pernyataannya, Yan kembali menyampaikan kritik terhadap respons Bestari yang menurut penilaiannya tidak menyentuh inti perdebatan.

“Ketika tidak mampu menjawab substansi persoalan, yang dimunculkan malah insinuasi politik. Somplak!” tulisnya.

Pernyataan Yan kemudian menjadi perhatian sejumlah pengguna X. Mereka turut menyoroti pandangannya mengenai pentingnya menggunakan argumentasi hukum dalam membahas putusan pengadilan.

Yan berpandangan, perbedaan sikap politik merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, apabila perdebatan menyangkut putusan pengadilan dan konsekuensi hukumnya, tanggapan yang disampaikan semestinya tetap bertumpu pada argumentasi hukum dan penalaran rasional.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update