Pekerja Muda Jakarta Pilih Ngekos Rp2 Juta per Bulan: Apakah Sewa Kos Selalu Berarti Buang Uang?
Finantara.id - Banyak pekerja muda di Jakarta memilih tinggal di kos karena dekat tempat kerja dan tidak perlu menanggung biaya besar membeli rumah atau menyewa apartemen. Peneliti GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menilai biaya sewa tidak bisa langsung dianggap uang terbuang hanya karena penyewa tak memperoleh aset properti, sekaligus mengingatkan perlunya hunian sewa layak dan terjangkau dalam kebijakan perumahan.
Kata Peneliti: Sewa Membeli Lokasi dan Fleksibilitas
Adrian menyatakan keputusan tinggal di kos berkaitan dengan kemampuan finansial dan keterjangkauan hunian di Jakarta. Bagi yang belum mampu membeli rumah, menyewa kamar memungkinkan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal tanpa langsung menanggung cicilan jangka panjang.
“Kalau melihatnya hanya dari sisi kepemilikan aset, menyewa memang tidak menghasilkan kepemilikan rumah. Namun, orang juga membayar untuk mendapatkan tempat tinggal, akses ke lokasi kerja, dan fleksibilitas,” kata Adrian saat dihubungi.
Menurutnya, membandingkan sewa dan beli tidak cukup dengan melihat uang sewa dan cicilan bulanan, karena pembelian rumah juga memerlukan uang muka, biaya perawatan, dan pengeluaran lain. Sebagai ilustrasi, rumah seharga Rp800 juta dengan uang muka 20 persen membutuhkan dana awal Rp160 juta, dan sisanya masih harus dicicil bertahun-tahun.
“Yang perlu dihitung bukan hanya apakah cicilannya terlihat mampu dibayar setiap bulan, tetapi juga apakah seseorang masih punya ruang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, dan menghadapi pengeluaran tidak terduga,” jelas Adrian.
Tantangan Menyewa: Terus Bayar, Tak Punya Aset
Menyewa kos juga punya sisi lemah. Biaya sewa harus dibayar terus tanpa kepemilikan, dan pengeluaran itu bisa mengurangi kemampuan mengumpulkan uang muka rumah. Sebagai gambaran, pekerja berpenghasilan Rp6 juta per bulan yang membayar kos Rp2 juta mengalokasikan sekitar 33,3 persen penghasilannya untuk tempat tinggal, belum termasuk makan, transportasi, dan kebutuhan lain. Karena itu, pemilihan hunian perlu mempertimbangkan keseluruhan kondisi keuangan, bukan hanya kemampuan membayar sewa bulanan.
Kisah Penghuni: Bella dan Virda
Bella (26) tinggal di kos sejak kuliah hingga bekerja, sekitar tujuh hingga delapan tahun dengan beberapa kali pindah. Kini ia membayar sekitar Rp2 juta per bulan untuk kamar 3 x 3 meter di Jakarta Selatan, dengan tempat tidur, lemari, meja kecil, dan kamar mandi pribadi.
“Kalau untuk sekarang, ngekos masih paling praktis. Apalagi kalau tempatnya dekat kantor, jadi tidak perlu menghabiskan banyak waktu di jalan,” ujar Bella saat dihubungi Kompas.com, Senin (26/10/2026).
Menurut Bella, membeli rumah tidak mudah bagi pekerja muda yang harus membagi penghasilan untuk berbagai kebutuhan.
“Pengen punya rumah sendiri, tetapi harus dihitung juga uang muka, cicilan, dan biaya lainnya. Kalau rumahnya jauh dari kantor, ongkos transportasi dan waktu perjalanan juga harus dipikirkan,” kata dia.
Ia sadar menyewa berarti membayar tiap bulan tanpa memiliki tempat tinggal, tetapi pilihan itu memberi fleksibilitas selama kondisi keuangan belum memungkinkan membeli rumah. Kekurangannya ada pada ruang penyimpanan yang terbatas dan keleluasaan menerima teman.
Virda (27), pekerja swasta di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, membayar sekitar Rp2 juta per bulan untuk kamar dengan pendingin ruangan dan kamar mandi pribadi. Ia memilih kos karena lokasinya mendukung aktivitas harian.
“Menurut saya, ngekos itu bukan berarti kita tidak punya tujuan untuk membeli rumah. Memang sekarang kebutuhannya masih lebih cocok ngekos,” kata Virda saat dihubungi.
Ia menilai keputusan membeli rumah tak semestinya didasarkan pada usia atau keinginan mengikuti orang lain.
“Kalau mau beli rumah, harus benar-benar siap. Bukan cuma uang muka dan cicilan, tetapi juga biaya perawatan dan kebutuhan sehari-hari. Jangan sampai punya rumah, tetapi pengeluaran lainnya malah keteteran,” ujar dia.
Sisi Pemilik Kos: Harga Menyesuaikan Fasilitas
Bigal (38), pengelola enam kamar kos milik keluarganya di Cikini, Jakarta Pusat, mengatakan lokasi menjadi pertimbangan utama calon penyewa karena pekerja mencari tempat yang dekat kantor dan mudah menjangkau kebutuhan sehari-hari.
“Lokasi memang menjadi pertimbangan. Orang biasanya mencari tempat yang memudahkan aktivitas mereka, apalagi kalau setiap hari harus bekerja,” ujar Bigal saat ditemui.
Ia menambahkan, mengelola kos berarti juga menjaga kebersihan, memastikan fasilitas berfungsi, dan memperbaiki kerusakan, sehingga biaya perawatan menjadi pengeluaran yang harus diperhitungkan.
Ita (41), pemilik delapan kamar kos di Mampang, menyewakan kamar tanpa pendingin ruangan mulai Rp1,6 juta per bulan, dan kamar ber-AC Rp2,5 juta per bulan.
“Biasanya orang menyesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran. Ada yang mencari kamar tanpa AC, ada juga yang memang membutuhkan AC dan fasilitas lebih lengkap,” kata Ita.
Menurutnya, calon penghuni biasanya membandingkan harga dan fasilitas sebelum memutuskan, sehingga pemilik perlu menjaga kondisi kamar. Biaya pemeliharaan dan perbaikan turut memengaruhi penentuan harga sewa.
Perlu Hunian Sewa Terjangkau
Adrian menilai keterjangkauan hunian tidak cukup diselesaikan dengan mendorong masyarakat membeli rumah. Pekerja yang belum siap membeli membutuhkan pilihan tempat tinggal layak dengan biaya terjangkau.
“Hunian sewa yang layak dan terjangkau, terutama di lokasi yang terhubung dengan transportasi umum, juga perlu diperhitungkan dalam kebijakan perumahan,” kata dia.
Kos, apartemen sewa, dan rumah milik masing-masing punya kelebihan dan konsekuensi. Keputusan beli atau sewa, menurut artikel ini, tidak bisa disamaratakan, dan pekerja perlu menimbang lokasi, waktu perjalanan, biaya transportasi, kebutuhan hidup, serta kemampuan menyisihkan uang untuk tabungan dan dana darurat.
