Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Kisah Sarjana Ekonomi Jadi ART di Taiwan, Tak Menyesal Tinggalkan Kerja Kantoran

✍️ Amalia Putri 🕒 19 Oct 2026 👁️ 2x dibaca
Foto: Ilustrasi asisten rumah tangga.
Foto: Ilustrasi asisten rumah tangga. Foto: CNN Indonesia

Finantara.id - Maha, lulusan Sarjana Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, memilih bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Taiwan setelah penghasilannya saat bekerja di Indonesia dinilai belum mencukupi kebutuhan hidup dan tanggungan keluarga. Dengan penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan, ia mengaku berhasil melunasi utang keluarga pada tahun pertama bekerja.

Sebelum merantau, perempuan berusia 31 tahun itu bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember. Ia ditempatkan di bagian sumber daya manusia (SDM) dan keuangan setelah menyelesaikan pendidikan pada 2018.

Namun, gaji setara upah minimum regional (UMR) yang diterimanya saat itu sebagian besar digunakan untuk membayar biaya kos dan kebutuhan sehari-hari. Maha juga harus membantu menanggung utang orang tuanya sehingga kesulitan menyisihkan uang untuk ditabung.

"Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia.

Kondisi keuangan tersebut mendorong Maha mencari pekerjaan lain yang tidak mengharuskannya mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal. Ia kemudian memutuskan pergi ke Taiwan dan bekerja sebagai ART.

"Kupikir-pikir kalau kerja lagi maunya yang enggak perlu bayar kos, dan kepikiranlah ke Taiwan. Nekat saja sih ini," ujarnya.

Gaji ART Bantu Lunasi Utang Keluarga

Dalam pekerjaannya di Taiwan, Maha bertanggung jawab memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah majikannya yang terdiri dari empat lantai, mencuci pakaian menggunakan mesin maupun secara manual, serta berbelanja kebutuhan rumah tangga ke pasar. Ia juga sesekali membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya datang berkunjung.

Atas pekerjaan tersebut, Maha memperoleh penghasilan sekitar Rp10 juta per bulan. Meski mengakui beban kerjanya cukup berat hingga pernah tertidur di kamar mandi, ia merasakan perubahan pada kondisi keuangan dirinya dan keluarga.

Hasil kerja kerasnya mulai terlihat pada tahun pertama ketika seluruh utang yang menjadi tanggungannya berhasil dilunasi.

"Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," katanya.

Selain membantu memperbaiki keuangan keluarga, pengalaman bekerja di luar negeri juga membuat Maha belajar beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda.

Ia mengaku tidak menyesali keputusannya meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi ART. Menurut Maha, pekerjaan tersebut tidak seharusnya dipandang sebelah mata, sementara gelar sarjana yang dimilikinya tetap memberikan nilai tambah.

"Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya.

Maha menilai pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan sesuai jurusan, tetapi juga membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Berbagai kemampuan tersebut tetap berguna meskipun seseorang menekuni profesi di luar bidang pendidikannya.

Lulusan Perguruan Tinggi Lain Juga Memilih Jadi ART

Kisah Maha yang dibagikan melalui akun Threads @noraisaly*** mendapat tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial. Beberapa di antaranya mengaku memiliki pengalaman serupa, yakni meninggalkan pekerjaan sebelumnya untuk menjadi ART di luar negeri.

Salah satunya adalah pengguna akun @maufy_i***. Ia mengaku lulusan D1 Administrasi tahun 2012 yang sempat bekerja sebagai kepala gudang sebelum akhirnya mengundurkan diri dan memilih bekerja sebagai ART di Hong Kong.

"Aku D1 Administrasi lulusan tahun 2012, kerja udah jadi kepala gudang dan resign, lalu memilih jadi babu Hong Kong. Alhamdulillah udah enam tahun di majikan yang sama dan aku betah," tulisnya.

Pengalaman serupa juga dibagikan pengguna akun @austin698*** yang mengaku merupakan lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa sebagian pekerja memilih jalur karier berbeda dari latar belakang pendidikannya. Bagi Maha, keputusan bekerja di luar negeri bukan berarti menyia-nyiakan gelar sarjana, melainkan upaya memperbaiki kondisi ekonomi sekaligus memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update