Keluarga di Mekarsari Bandung Viral, Pemdes Minta Penanganan Kesehatan Mental
Finantara.id - Unggahan mengenai kondisi sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, RT 01/RW 06, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, viral di media sosial Instagram. Unggahan tersebut memperlihatkan kondisi rumah keluarga itu serta upaya aparat dan warga membersihkan tempat tinggal mereka.
Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa, membenarkan bahwa keluarga yang menjadi sorotan tersebut merupakan warganya. Menurut dia, keluarga itu menghadapi persoalan sosial dan ekonomi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, termasuk dukungan kesehatan dan perlindungan anak.
"Betul itu warga Desa Mekarsari," katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (27/10/2026).
Yasa mengatakan pemerintah desa bersama warga telah berupaya membantu keluarga tersebut. Namun, ia menilai diperlukan pendampingan berkelanjutan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan instansi terkait.
Persoalan Ekonomi dan Konflik Keluarga
Yasa menuturkan, persoalan keluarga tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi ekonomi dan keretakan rumah tangga orang tua Ogi Umaedi, warga asli setempat.
Dari pernikahan tersebut, Cucu Jubadah atau yang akrab disapa Ibu Cucu memiliki tiga anak, yakni Ogi Umaedi, Erna Maryana, dan Melinda Ulhusna. Ogi kemudian merantau dan menikah dengan Indah Triyanti, perempuan asal Lampung.
Menurut Yasa, data kependudukan keluarga Ogi dan Indah baru dipindahkan dari Lampung ke Desa Mekarsari sekitar empat bulan lalu. Pemindahan itu dilakukan ketika Indah sedang mengandung dan membutuhkan penanganan medis di daerah asal suaminya.
Yasa menduga penurunan kondisi ekonomi keluarga turut memengaruhi keadaan psikologis sejumlah anggotanya. Ia mengatakan keluarga tersebut sebelumnya memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik, tetapi kemudian mengalami kemerosotan.
"Ketiga anak Ibu Cucu mentalnya tidak sehat, bukan bawaan tidak sehatnya teh. Tapi ini dari keadaan, yang awalnya si orang tuanya itu orang tua yang memang sukses, kaya lah. Tiba-tiba ekonominya drop, nah ketiga anak ini dikenal dimanjakan terus tidak pernah bersosialisasi dengan orang, tidak pernah dekat dengan tetangga. Nah, pada saat ekonominya jatuh, Ayahnya Ogi stres," ujarnya.
Yasa juga menyebut perceraian orang tua Ogi memperburuk situasi keluarga. Ia mengatakan Erna menjadi salah satu anggota keluarga yang lebih dahulu menunjukkan perubahan perilaku.
"Kemudian yang stres itu Erna, mungkin karena diperarah dengan perceraian orang tua mereka jadi berimbas ke yang lain. Erna itu, sampai telanjang kemana-mana," katanya.
Keterangan tersebut merupakan penilaian Yasa. Kondisi kesehatan mental dan faktor yang memengaruhinya pada setiap anggota keluarga perlu dipastikan melalui pemeriksaan tenaga kesehatan profesional.
Sembilan Anggota Keluarga Disebut Tinggal di Rumah Sempit
Kondisi tempat tinggal keluarga itu turut menjadi perhatian. Menurut Yasa, rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter tersebut dihuni delapan orang sebelum kelahiran anak ketiga Ogi dan Indah.
Mereka terdiri atas Ogi dan Indah, dua anak mereka saat itu, Ibu Cucu, serta Erna dan Melinda. Setelah Indah melahirkan seorang anak perempuan, jumlah anggota keluarga yang disebutkan menjadi sembilan orang, dengan catatan seluruh anggota tersebut masih tinggal di rumah yang sama.
Yasa menggambarkan kondisi rumah sebagai tempat tinggal yang sempit dan kurang terjaga kebersihannya. Menurut dia, pakaian dan kotoran menumpuk di dalam rumah, sementara berbagai aktivitas keluarga berlangsung di ruang terbatas.
"Sangat bau, makan disitu, baju disitu, baju tidak pernah disetrika, kotoran juga banyak di dalam rumahnya," kata dia.
Pemerintah desa bersama warga dan kader posyandu disebut telah beberapa kali membantu membersihkan rumah tersebut. Namun, Yasa mengatakan kondisi rumah kembali tidak terawat setelah kegiatan pembersihan selesai.
"Tahun kemarin dibersihkan, tahun sekarang juga sudah dibersihkan. Tapi karena gak direhabilitasi yang kotor lagi," ungkap Yasa.
Ia menilai bantuan kebersihan perlu disertai pendampingan dan penanganan yang berkelanjutan agar kondisi keluarga dapat membaik.
Kondisi dan Perlindungan Anak Menjadi Perhatian
Yasa mengatakan Ogi kerap berbicara sendiri dan menyampaikan klaim mengenai jabatan serta kedekatannya dengan sejumlah pejabat. Namun, keterangan tersebut tidak cukup untuk menentukan kondisi medis seseorang tanpa pemeriksaan profesional.
Ia juga menilai kondisi Indah berubah setelah tinggal di lingkungan yang menurutnya penuh tekanan dan kurang terjaga kebersihannya.
"Indah awalnya sadar, tapi karena diam di lingkungan yang seperti itu, kotor bau, dan dia diam artinya dia juga sama kena mentalnya," tutur Yasa.
Perhatian juga tertuju pada anak-anak Ogi dan Indah. Dua anak mereka, Akbar Rizky, yang duduk di kelas IV sekolah dasar (SD), dan Fahri Syahreza, berusia lima tahun, disebut masih tinggal di rumah keluarga tersebut.
Pada 27 Oktober 2026, Indah disebut telah melahirkan seorang anak perempuan di Rumah Sakit Welas Asih. Menurut Yasa, persalinan dilakukan melalui operasi sesar dan pemerintah desa telah berupaya membantu agar Indah memperoleh penanganan medis.
"Perhari ini jadi tiga karena baru lahiran di Rumah Sakit Welah Asih, kemarin sesar harus ada uang Rp 8 juta, Desa sudah siap, bahkan saya bilang kalau gak ditangani bawa BPKB motor saya sebagai jaminan," ujarnya.
Meski Indah menjalani perawatan di rumah sakit, Yasa mengatakan anak-anak mereka yang lain masih berada di rumah keluarga tersebut.
Ia mengkhawatirkan kondisi Fahri yang menurutnya jarang keluar rumah dan berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Sementara itu, Akbar disebut masih dapat bermain bersama teman-temannya.
"Yang mengerikan, si Fahri diam dan duduk hidup di lingkungan yang tiga orang mentalnya tidak sehat. Fahri gak pernah keluar, gak bersosial dengan anak sebayanya, kalau lihat orang nangis. Kalau Akbar masih bisa main dengan temennya. Per hari ini meskipun Indah lagi di Welas Asih, ya anggota keluaganya masih di sana di rumah yang sama," katanya.
Kondisi tersebut menyoroti pentingnya memastikan keselamatan, pemenuhan kebutuhan dasar, akses pendidikan, serta tumbuh kembang anak. Pendampingan perlu dilakukan dengan melibatkan tenaga kesehatan dan layanan perlindungan anak, tanpa memberi stigma kepada anggota keluarga.
Pemdes Mekarsari Minta Penanganan Lintas Instansi
Yasa menyatakan Pemerintah Desa Mekarsari telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk aparat kewilayahan dan puskesmas, untuk memperhatikan kondisi keluarga tersebut.
Ia berharap instansi terkait dapat melakukan asesmen kesehatan dan memberikan penanganan sesuai kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Yasa juga meminta agar Dinas Sosial dan Pemerintah Kabupaten Bandung dilibatkan.
"Ini persoalan kemanusiaan saya sering bilang ke Camat, ke Pak Sekcam. Pihak Puskesmas juga sudah disampaikan. Pak Camat belum pernah ke sana ada juga Kanit Satpol PP datang tapi gak berani masuk da bau. Saya sudah minta ke pihak RW untuk memperhatikan keluarga Ibu Cucu itu. Siapapun nanti penggantinya, karena sejauh ini kami pihak Desa, Babinsa sudah memperhatikan terus. Saya sudah minta yang mentalnya terganggu segera direhabilitasi oleh Dinsos, atau Camat berkomunikasi dengan pemerintah Kabupaten Bandung. Ya, minimal harus ada yang diselamatkan," terangnya.
Yasa menegaskan, persoalan keluarga tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut dia, warga sekitar dan pemerintah desa masih berupaya membantu sesuai kemampuan, tetapi penanganan yang lebih menyeluruh diperlukan.
"Saya melihat, bukan tetangga tidak peduli, ini bukan masalah makan, soal makan warga tetap saling bantu, meskipun seadanya. Desa pun seperti itu. Ini perlu direhabilitasi. Karena ini mentalnya udah kena dan bukan bawaan lahir. Ogi itu kalau diajak ngobrol nyambung pernah sekolah, berpendidikan, tapi akibat kondisi keluarga jadi seperti ini," kata Yasa.
Penanganan keluarga tersebut membutuhkan koordinasi lintas instansi, termasuk layanan kesehatan, dinas sosial, pemerintah daerah, dan layanan perlindungan anak. Pemeriksaan profesional diperlukan untuk menentukan kebutuhan setiap anggota keluarga. Pada saat yang sama, kondisi anak-anak perlu segera dinilai oleh pihak berwenang agar keselamatan, kebutuhan dasar, dan hak tumbuh kembang mereka tetap terlindungi.
