Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Ekonomi
Ekonomi

Investasi Luar Negeri China Dinilai IMF Bisa Sebarkan Teknologi Digital dan Energi Hijau

✍️ Amalia Putri 🕒 19 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Wakil Direktur di Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Thomas Helbling berbicara dalam sebuah wawancara dengan Xinhua di Bangkok, Thailand, (12/10/2026).
Wakil Direktur di Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Thomas Helbling berbicara dalam sebuah wawancara dengan Xinhua di Bangkok, Thailand, (12/10/2026). Foto: Xinhua/Rachen Sageamsak

Finantara.id - Bangkok - Dana Moneter Internasional (IMF) menyambut baik upaya China mempertahankan sistem perdagangan multilateral berbasis aturan. Lembaga itu juga menilai investasi langsung perusahaan China di luar negeri bisa membantu menyebarkan teknologi baru, terutama di bidang digital dan energi hijau, ke banyak negara.

“IMF menyambut baik upaya proaktif China untuk mempertahankan sistem perdagangan multilateral dan berbasis aturan,” kata Wakil Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Thomas Helbling kepada Xinhua dalam wawancara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026 di Bangkok, Thailand.

Helbling menekankan bahwa akar perbedaan yang memicu sengketa dagang perlu diselesaikan. Ia menilai negara berekonomi besar seperti China memegang peran kunci dalam mendorong penyelesaian tersebut.

“Pada akhirnya, penting bagi negara-negara untuk menyelesaikan ketegangan dan perbedaan mendasar di balik sengketa perdagangan. Bagi perekonomian besar seperti Tiongkok, penting bagi negara itu untuk mengambil peran kepemimpinan dalam menyelesaikan beberapa perbedaan ini,” ujarnya.

Investasi Asing dan Transfer Teknologi

Helbling berharap China dapat membantu negara lain menikmati manfaat kemajuan teknologi lewat investasi asing langsung. Menurutnya, investasi perusahaan China di mancanegara dapat mendorong penyebaran dan penerapan teknologi baru, termasuk teknologi digital dan energi hijau.

Risiko Fragmentasi Geoekonomi

Meski demikian, IMF tetap mewaspadai fragmentasi geoekonomi dan memanasnya tensi geopolitik. Kondisi ini berpotensi mengganggu arus perdagangan, memperbesar gesekan dagang, dan meningkatkan inefisiensi ekonomi di level global maupun regional, yang pada akhirnya menekan pertumbuhan.

Helbling menyebut IMF sudah lama mendorong negara-negara menyelesaikan persoalan mendasar di balik ketegangan dagang. Baginya, sistem perdagangan yang ideal adalah yang terbuka dan multilateral.

Ekonomi Asia Lebih Tangguh dari Perkiraan

Soal ketahanan ekonomi China dan Asia, Helbling menyatakan dampak guncangan energi tahun ini lebih terkendali dibanding prakiraan awal.

“Dalam kasus China, pemerintah telah meredam dampak pada harga pengguna akhir dan memobilisasi sumber energi lain untuk mengimbangi sebagian guncangan negatif pada pasokan bahan bakar fosil,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang memberi dampak positif bagi ekonomi di kawasan Asia, termasuk China.

Dalam laporan Prospek Ekonomi Regional Asia dan Pasifik yang dirilis Kamis (15/10), IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia 2026 menjadi 4,8 persen, naik 0,4 poin persentase dari proyeksi April.

Peredam Guncangan Tak Bisa Dipertahankan Selamanya

Helbling mengingatkan bahwa langkah peredam guncangan pasokan energi, seperti pemanfaatan penyangga persediaan (inventory buffer), subsidi energi, dan pemangkasan pajak, tidak bisa dijalankan tanpa batas waktu.

Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama atau makin parah, persediaan akan terkuras. Pada kondisi itu, kenaikan harga secara penuh dapat menambah tekanan terhadap perekonomian.

 

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update