Minggu, 01 Nov 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

DPR Sebut Hilirisasi Nikel Jadi Penggerak Industri Baterai Kendaraan Listrik

✍️ Amalia Putri 🕒 29 Oct 2026 👁️ 7x dibaca
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate).
Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate). Foto: Dok. DHL

Finantara.id - Komisi XII DPR RI menilai hilirisasi pertambangan di Indonesia terus berkembang, dari pengolahan mineral mentah menjadi produk setengah jadi hingga merambah produksi baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Perkembangan ini dinilai membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Golkar, Bambang Patijaya, menyebut industri baterai berpotensi menjadi game changer bagi perekonomian Indonesia. Selain mendorong pertumbuhan industri dalam negeri, perkembangan tersebut dinilai dapat memengaruhi pola penggunaan kendaraan masyarakat.

Menurut Bambang, masyarakat yang selama ini mengandalkan kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) mulai mempertimbangkan kendaraan listrik berbasis baterai. Peralihan ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap BBM impor sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan sumber daya dan energi yang dikembangkan di dalam negeri.

"Hari ini tiba-tiba nikel limonit (bijih nikel kadar rendah, untuk bahan baku baterai), 10 tahun lalu gak dilirik, gak ada yang minat, sekarang dicari karena pasar berkembang. Hilirisasi sudah berjalan, misalkan nikel, tidak semata-mata berkembang di sektor smelting, yang lain juga berkembang. Saat mereka berkembang, bisa dikembangkan untuk baterai, itulah game changer," kata Bambang dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk "Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?", dikutip Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, pemanfaatan nikel kini tidak hanya berkutat pada industri peleburan (smelting), tetapi juga mulai diarahkan untuk mendukung rantai produksi baterai. Perubahan kebutuhan pasar membuat nikel limonit, yang sebelumnya kurang diminati, memiliki nilai ekonomi lebih besar sebagai bahan baku baterai.

DPR Dorong Pengembangan Baterai Lithium

Meski Indonesia telah mengembangkan baterai berbasis nikel, Bambang menilai produksi baterai berbasis lithium juga perlu diperkuat. Pasalnya, kebutuhan baterai lithium di dalam negeri masih bergantung pada pasokan impor.

"Jenis baterai yang kita punya masih nikel base, kalau baterai lithium itu masih impor, sehingga harus ada pendorong agar Indonesia bisa memproduksi baterai lithium," ucapnya.

Bambang menilai perkembangan teknologi akan terus memengaruhi pilihan sumber energi dan jenis kendaraan yang digunakan masyarakat. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemampuan industrinya agar dapat mengikuti perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.

"Dunia terus berkembang, seperti mesin yang terus berkembang, makanya kalau ada golongan Solar dan bensin, ke depan saya juga yakin akan tahu mana yang terbaik, kita sudah punya baterai berbasis nikel," ujarnya.

Ia juga menyoroti peluang peningkatan produksi baterai lithium seiring berkembangnya pasar kendaraan listrik. Menurutnya, kapasitas produksi yang tengah dikembangkan dikabarkan mulai mencapai skala yang cukup besar.

"Walaupun di sini baterai lithium base masih dikembangkan, tetapi katanya sudah mulai produksi, setara 100.000 mobil listrik (EV) per tahun," jelasnya.

Hilirisasi Perlu Diiringi Penyelesaian Hambatan Industri

Bambang menyampaikan bahwa hilirisasi berlangsung di berbagai sektor, mulai dari pertambangan hingga industri lainnya. Meski laju pengembangan setiap sektor berbeda, ia menilai berbagai bidang tersebut terus mengalami perkembangan.

"Dari situasi yang ada, hilirisasi pada semua bidang, baik pertambangan maupun industri lainnya semua berjalan, ada yang speed tinggi, biasa saja, tapi semua berkembang. Tugas kita bagaimana menguraikan masalah yang ada," tandasnya.

Ia menekankan perlunya mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai kendala agar program hilirisasi dapat berjalan lebih optimal. Upaya tersebut mencakup pengembangan industri baterai berbasis nikel maupun lithium untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri.

Penguatan industri baterai juga menjadi bagian dari transformasi sektor energi dan otomotif. Dengan kapasitas produksi yang terus dikembangkan, Indonesia berpeluang memperluas peran industri domestik dalam rantai pasok kendaraan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update