Downgrade Lifestyle Ramai, Data Mandiri Ungkap Warga Makin Selektif Berbelanja
Finantara.id - Fenomena downgrade lifestyle, yakni menurunkan standar gaya hidup demi berhemat, sedang ramai dibicarakan di media sosial. Data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan belanja masyarakat secara keseluruhan masih tumbuh 6,3% secara tahunan pada pekan kedua September 2026, meski mulai melambat. Di balik angka itu, masyarakat terlihat makin selektif menentukan pengeluaran: porsi belanja restoran dan supermarket naik, sementara handphone, fashion, dan kebutuhan rumah tangga turun.
Downgrade lifestyle menggambarkan perubahan kebiasaan menuju gaya hidup yang lebih sederhana atau terjangkau. Contohnya, orang yang biasa membeli kopi di kafe beralih ke pilihan lebih murah, memakai kendaraan yang lebih ekonomis, mengurangi liburan, atau menunda membeli handphone baru karena perangkat lama masih layak pakai. Bagi sebagian orang, ini pilihan sadar untuk menjaga keuangan. Bagi yang lain, ini keharusan karena pendapatan harus menyesuaikan kebutuhan hidup yang terus bertambah. Fenomena ini juga dibahas dalam tulisan opini di laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 12 Oktober 2026.
Belanja masih tumbuh, tetapi melambat
Laporan Office of Chief Economist Bank Mandiri berdasarkan data hingga 13 September 2026 mencatat indeks belanja di level 123,5 pada pekan kedua September, turun dari 123,6 pada pekan sebelumnya. Secara mingguan indeks melemah 0,05%, dan penurunan ini sudah berlangsung empat pekan berturut-turut.
Meski begitu, pertumbuhan tahunan belanja tercatat 6,3%, sedikit di bawah 6,4% pada pekan sebelumnya. Rata-rata pertumbuhan kuartal ketiga 2026 hingga pekan kedua September mencapai 6,1%, sama dengan kuartal kedua, tetapi lebih rendah dari kuartal pertama yang sebesar 6,4%. Angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 5,4%.
Restoran dan supermarket menguat
Porsi belanja restoran naik menjadi 19,6% dari total nilai belanja pada September 2026, dari 19,0% pada Agustus. Porsi supermarket naik lebih besar, dari 16,3% menjadi 17,4%. Gabungan keduanya menyumbang 37,0% dari total belanja, naik 1,7 poin persentase dari 35,3% bulan sebelumnya, meski masih di bawah September 2025 yang sebesar 37,9%.
Secara tahunan, belanja restoran tumbuh 5,1% dan supermarket 4,5%, jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tidak mencatat pertumbuhan. Temuan ini sejalan dengan konsep selective spending dalam laporan Mandiri, yaitu masyarakat memilih prioritas belanja. Namun, kenaikan porsi tidak otomatis berarti semua orang membelanjakan lebih banyak, sebab angka tersebut menunjukkan perubahan bagian dari total belanja, bukan perubahan jumlah barang atau jasa yang dibeli.
Handphone, rumah tangga, dan fashion menyusut
Porsi belanja handphone turun dari 17,6% pada Agustus menjadi 16,3% pada September. Kebutuhan rumah tangga turun dari 8,9% menjadi 7,9%, sedangkan fashion turun dari 7,0% menjadi 6,5%. Pola ini selaras dengan bentuk downgrade lifestyle berupa mengurangi pembelian barang yang belum mendesak atau menunda mengganti barang yang masih layak.
Di sisi lain, porsi belanja elektronik naik dari 5,9% menjadi 6,1%, dan kesehatan naik dari 5,5% menjadi 5,8%. Artinya, perubahan pola belanja tidak merata di semua kategori.
Hiburan dan tiket pesawat masih tertekan
Secara mingguan, belanja kelompok rekreasi (leisure) naik 0,27% pada pekan kedua September, ditopang belanja hobi dan hiburan yang naik 0,48% serta perhiasan 0,22%. Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, belanja hobi dan hiburan masih turun 2,7%, dan tiket pesawat turun 4,8%.
Sebaliknya, kebutuhan mobilitas harian masih tumbuh. Belanja bahan bakar naik 6,6% secara tahunan, otomotif 6,3%, dan transportasi 10,7%. Gambaran ini menunjukkan kebutuhan yang terkait aktivitas sehari-hari masih menjadi bagian penting dari pengeluaran masyarakat.
Masyarakat tidak berhenti belanja, tetapi memilih prioritas
Laporan MSI tidak mengukur fenomena downgrade lifestyle secara langsung. Namun, perubahan komposisi pengeluaran memperlihatkan bahwa kebiasaan belanja terus bergeser. Masyarakat tidak serta-merta berhenti berbelanja, tetapi semakin memilih kebutuhan yang didahulukan.
