Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Politik
Politik

Demo Meluas di Eropa, Kemlu Ingatkan WNI Tetap Waspada dan Pantau Informasi KBRI

✍️ Amalia Putri 🕒 22 Oct 2026 👁️ 1x dibaca
Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Foto: KOMPAS.com/HARYANTI PUSPA SARI

Finantara.id - Pemerintah Indonesia mengingatkan warganya yang berada di Eropa agar waspada di tengah gelombang demonstrasi yang kian meluas. Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir meminta WNI menjaga diri dan menjauhi urusan politik negara setempat. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

“Bagi warga negara Indonesia yang ada di Eropa tentunya kita meminta kepada mereka untuk berhati-hati, menjaga diri, dan tidak ikut-ikut campur dengan urusan politik yang berkembang di sana,” kata Arrmanatha, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menurut Menlu, pemerintah terus memantau situasi di Eropa. WNI diminta mengikuti informasi resmi dari KBRI di negara masing-masing.

“Dan utamanya adalah ikutilah imbauan-imbauan yang disampaikan oleh pemerintah tempat dan fokus kepada tugas-tugas mereka di sana, apakah yang belajar atau yang bekerja,” ujar dia.

Eskalasi dari Prancis ke Negara Lain

Kerusuhan yang pecah di Prancis kini merembet ke negara-negara tetangga. Mengutip The Guardian, protes dari Prancis memicu aksi serupa di kawasan lain. Pada 17 Oktober 2026, demonstrasi tercatat di Belgia, Portugal, Albania, Spanyol, dan Italia.

The Telegraph melaporkan, sekitar 550.000 orang turun ke jalan, dengan 110.000 di antaranya berkumpul di Paris. Massa terdiri dari gerakan rompi kuning, serikat pekerja, dan kelompok mahasiswa.

Pemicu: Protes Pelajar Soal Kondisi Sekolah

Gelombang aksi ini berawal dari demonstrasi pelajar yang telah berlangsung tiga pekan. Mereka memprotes kekurangan guru dan memburuknya kondisi sekolah menengah di pinggiran Paris. Sejumlah sekolah dilaporkan dibakar.

Seruan di media sosial lalu mengajak warga di berbagai wilayah menghidupkan kembali gerakan “rompi kuning” yang pertama kali muncul pada 2018 sebagai penolakan atas naiknya biaya hidup. Gerakan itu kini melibatkan serikat pekerja yang mewakili perawat, guru, petani, dan pengemudi taksi, serta aktivis lingkungan.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update