Sabtu, 24 Okt 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Biaya Hidup Naik, Pekerja Swasta Pilih Downgrade Gaya Hidup demi Tabungan Masa Depan

✍️ Amalia Putri 🕒 17 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Ilustrasi gaya hidup
Ilustrasi gaya hidup Foto: freepik.com

Finantara.id - Meningkatnya biaya hidup mendorong sebagian pekerja menurunkan gaya hidup atau melakukan downgrade lifestyle. Dua pekerja swasta, Amel (28) dan Hani (25), mengaku beralih ke pola hidup lebih sederhana demi menekan pengeluaran dan memperbesar tabungan. Menurut Financial Planner dari Finante Maryadi Santana, langkah ini tidak berarti kondisi finansial seseorang melemah.

Selama ini, mempertahankan gaya hidup seperti kendaraan mewah, restoran mahal, serta perhiasan dan pakaian bermerek kerap dianggap sebagai kehormatan. Tampil mampu di hadapan orang lain menjadi gengsi yang sulit diruntuhkan, bahkan ketika tidak sesuai kondisi keuangan. Akibatnya, tidak sedikit orang rela berutang demi memenuhi gaya hidupnya.

Amel: Dulu Gengsi, Kini Tabungan Jadi Prioritas

Amel mengaku dulu menjadikan gaya hidup boros sebagai gengsi. Kini pandangannya berubah.

“Dulu kan mempertahankan gaya hidup dengan menghaburkan-hamburkan uang jadi gengsi tersendiri, biar kelihatan keren, mampu, sekarang mah udah enggak sih,” tutur dia kepada Kompas.com, Sabtu (17/10/2026).

Dengan gaji sekitar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan, Amel dulu membaginya untuk orangtua, kebutuhan pribadi, dan gaya hidup seperti ngopi di kafe mahal, belanja di mal, dan makan di restoran mewah. Pengeluaran yang tak terkendali membuat uangnya habis sebelum gajian berikutnya. Kini, saat penghasilannya mulai naik, ia justru memilih hidup lebih sederhana.

“Pilih downgrade atau lebih sederhana karena biaya hidup semakin mahal. Belanja bulanan aja Rp 2,5 juta, belum listrik, air, dan lain-lain,” ungkap dia.

Amel sudah menikah sehingga biaya kebutuhan rumah ditanggung bersama. Meski begitu, ia tetap memprioritaskan tabungan masa depan.

“Kalau dulu setiap gajian hal utama harus sisihin buat jalan-jalan, sekarang enggak, paling awal itu buat tabungan dulu,” ungkap dia.

Hani: Lebih Sering Masak Sendiri

Hani mulai menyederhanakan gaya hidup, terutama soal makanan. Dulu ia bisa mampir ke minimarket setiap hari untuk jajan sambil bekerja di sana. Sekarang ia lebih banyak menimbang pengeluaran.

“Contohnya kayak makan. Itu tuh kalau sebelumnya aku kayak sehari bisa mampir ke Family Mart gitu lah. Terus nongkrong di situ garap-garap (kerjaan), jajan gitu kan. Tapi sekarang tuh kayak lebih dipikir-pikir lagi, kayak mending aku masak aja,” ungkap dia.

Hani mengakui memasak menguras tenaga dan membuatnya harus bangun lebih pagi. Namun langkah itu ia ambil demi menghemat pengeluaran. Membeli makan di kafe atau supermarket menghabiskan sekitar Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per hari, sedangkan memasak di rumah hanya sekitar Rp 20.000 per hari. Selisih sekitar Rp 50.000 per hari itu ia alihkan ke tabungan.

Penjelasan Financial Planner

Maryadi menegaskan, downgrade gaya hidup tidak selalu berarti keuangan seseorang melemah. Ada orang yang masih mampu secara finansial tetapi memilih hidup sederhana demi memikirkan masa depan. Di sisi lain, biaya hidup di kota besar, terutama Jakarta, yang melonjak tajam membuat keuangan banyak orang tertekan. Dalam kondisi itu, menurunkan gaya hidup, misalnya tidak membeli barang kurang penting, menjadi langkah yang perlu dilakukan.

“Kebutuhan sekunder, seperti membeli barang-barang yang tidak urgent atau mengganti kebutuhan dengan harga yang masuk dalam batas pendapatan,” jelas Maryadi saat dihubungi, Sabtu.

Ia menganjurkan masyarakat, terutama kelas menengah bawah, segera menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran. Salah satu caranya adalah membuat catatan anggaran baru agar hitungan lebih tepat dan alokasi uang untuk setiap kebutuhan lebih mudah dilakukan.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update