Minggu, 01 Nov 2026 Gaya HidupHukum & KriminalNasionalPolitikEkonomi
Breaking
Beranda › Gaya Hidup
Gaya Hidup

Biaya Hidup Makin Berat, Generasi Muda Tak Bisa Hanya Disalahkan soal Gaya Hidup

✍️ Amalia Putri 🕒 26 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua.
Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua. Foto: KOMPAS/PRIYOMBODO

Finantara.id - Tekanan biaya hidup yang dihadapi generasi muda memunculkan perdebatan mengenai gaya hidup, etos kerja, dan kemampuan mengelola keuangan. Sebagian pihak menilai anak muda perlu mengurangi pengeluaran dan bekerja lebih keras. Namun, persoalan ekonomi yang mereka hadapi juga dipengaruhi faktor struktural, mulai dari tingkat upah hingga keterjangkauan kebutuhan dasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah buruh meningkat dari sekitar Rp3,27 juta per bulan pada Agustus 2024 menjadi Rp3,33 juta pada Agustus 2025. Kenaikan sekitar 1,94 persen tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan pada Agustus 2025 yang mencapai 2,31 persen.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan secara nominal belum tentu meningkatkan daya beli apabila tidak mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa.

Bagi pekerja muda, pendapatan bulanan harus dibagi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti makanan, transportasi, tempat tinggal, komunikasi, dan kesehatan. Sebagian juga perlu membantu membiayai pendidikan adik atau memenuhi kebutuhan orang tua.

Kondisi tersebut membuat penghasilan yang tampak cukup secara nominal belum tentu menyisakan dana untuk menabung, meningkatkan keterampilan, atau mempersiapkan masa depan.

Survei Ungkap Tekanan Keuangan Anak Muda

Tekanan ekonomi generasi muda juga tergambar dalam survei Muda Bicara ID pada Oktober 2026. Sebanyak 40,9 persen responden muda menyatakan pendapatan atau uang saku mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Survei yang sama mencatat 61,5 persen responden pernah menggunakan pinjaman digital atau layanan paylater dalam enam bulan terakhir. Sebagian besar responden menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Temuan tersebut mengindikasikan bahwa sebagian anak muda menghadapi persoalan kecukupan pendapatan, bukan semata-mata kesulitan mengendalikan konsumsi. Ketika penghasilan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, pinjaman dapat menjadi salah satu cara menutup kekurangan. Namun, penggunaan layanan tersebut juga berpotensi menambah beban keuangan jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Tekanan semakin besar bagi kelompok sandwich generation, yakni mereka yang harus membantu memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus membiayai kebutuhan sendiri dan, dalam sejumlah kasus, anak-anak mereka.

Akibatnya, sebagian pendapatan telah dialokasikan untuk kebutuhan keluarga. Ruang untuk menabung, mengembangkan keterampilan, dan membangun kemandirian finansial pun menjadi lebih terbatas.

Tanggung Jawab Pribadi dan Faktor Struktural

Pengelolaan keuangan pribadi tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan biaya hidup. Generasi muda perlu menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, berhati-hati menggunakan pinjaman, serta meningkatkan keterampilan untuk memperluas peluang kerja.

Namun, tanggung jawab individu tidak menghilangkan peran pemerintah dalam menciptakan kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Penanganan persoalan biaya hidup membutuhkan langkah yang lebih luas, termasuk memperluas kesempatan kerja berkualitas, memperkuat perlindungan bagi pekerja informal, serta meningkatkan akses terhadap transportasi umum, hunian layak, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Dunia usaha juga berperan melalui penyediaan upah yang layak dan lingkungan kerja yang sehat. Karena itu, perbaikan kondisi ekonomi generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya perubahan perilaku konsumsi individu.

Keluhan Generasi Muda sebagai Masukan Kebijakan

Keluhan mengenai mahalnya biaya hidup dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan publik. Aspirasi generasi muda dapat membantu mengidentifikasi hambatan ekonomi yang mereka hadapi dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan.

Ruang dialog antara pemerintah dan generasi muda juga perlu diperluas agar persoalan tersebut dapat dibahas secara terbuka dan substantif.

Perdebatan tentang gaya hidup, etos kerja, dan kemampuan mengatur keuangan berisiko mengesampingkan persoalan lain, seperti kecukupan upah, kualitas lapangan kerja, keterjangkauan kebutuhan pokok, dan terbatasnya perlindungan sosial.

Oleh karena itu, persoalan biaya hidup generasi muda perlu ditangani melalui pendekatan yang seimbang. Pengelolaan keuangan yang bijak tetap diperlukan, tetapi perlu berjalan beriringan dengan kebijakan yang memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan keterjangkauan kebutuhan dasar.

Tuntutan agar biaya hidup lebih terjangkau tidak seharusnya langsung disederhanakan sebagai persoalan gaya hidup. Evaluasi terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan publik diperlukan agar solusi yang dirumuskan dapat menjawab tantangan yang dihadapi generasi muda.

AP
Amalia PutriEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update